Tampilkan postingan dengan label Silogisme Hipotesis dan Bentuk Penyimpulan Lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silogisme Hipotesis dan Bentuk Penyimpulan Lain. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 November 2009

2

Ajaib, Hamil Mendadak, 3 Jam Bisa Punya Bayi

Ajaib, Hamil Mendadak, 3 Jam Bisa Punya Bayi

LAMPUNG - Warga desa kota Napal, Kecamatan Bungamayang, Lampung Utara, di hebohkan dengan salah seorang warganya yang hamil mendadak kemudian melahirkan bayi laki-laki. Padahal, wanita berusia 21 tahun itu sebelumnya tidak hamil.

Senin (12/10/2009), Bekti Wahyuningsih tiba-tiba merasakan sakit dibagian perut dan langsung terus membesar. Selama tiga jam lebih, mendadak wanita yang sudah enam bulan ditinggal sang suami pergi ini melahirkan bayi laki-laki normal dengan berat badan 2,6 kilogram. Kondisinya sehat, kulitnya bersih .

Kabar tersebut, sempat mengundang perhatian warga setempat yang ingin melihat langusung kondisi bayi ajaib itu.

Bekti mengungkapkan, peristiwa ini berawal sekitar pukul 15.00 wib, ia hendak pergi kedapur untuk memasak. Tiba-tiba perutnya mendadak sakit, sambil menahan sakit ia meminta bantuan keluarganya. Dalam keadaan setengah sadar bekti dibawa keluarganya kekamar. Namun, tiba-tiba perut yang dikeluhkan Bekti semula rata justru perlahan-lahan membesar.

Sekitar tiga jam berselang, ia merasakan ingin buang hajat, namun, bukannya hajat yang keluar malainkan sesosok bayi laki-laki. Sejumlah warga maupun tetangga yang berada di sekitar Bekti kaget dan terkejut melihat kejadian itu.

Usai dilahirkan, sang bayi ajaib itu langsung memiliki nama yaitu Rahmadhani. Nama itu diperoleh atas usulan dari salah seorang paranormal setempat yang melihat tulisan arab berwarna putih ditangan kanan sang bayi dengan tulisan “rahmadhani” di yakini sang bayi lahir sudah membawa nama di telapak tangannya.




Read the rest of this entry -»

Sabtu, 22 Agustus 2009

0

Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia Merupakan bahasa resmi negara republik indonesia. Tapi dalam kenyataannya, Sudahkah kita yang menjadi, yang menempati bumi indonesia ini menggunakan bahasa indonesia? Sudahkah dalam keseharian kita menggunakana bahasa indonesia?

Bahasa Indonesia yang mulai sekolah dasar kita kenal, sebagai bahasa mata pelajaran Bahasa Indonesia. Akan tetapi dalam banyak hal Bahasa Indonesia belum bisa menjadi bahasa ibu. Masih Banyak yang menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa ibu.

Kawan-kawanku semua, bagaimanakah nasib diri anda dalammenyikapi Bahasa Indonesia ini?

Dalam perjalanannnya Bahasa Indonesia sangatlah lama. Mulai disiratkan dalam sumpah Pemuda 1928 dulu, Bahasa Indonesia kira-kira sudah tua jika diukur dengan umur manusia. Kira-kira orang yang mengalami sumpah pemuda ada gak ya orang yang sampai sekarang masih hidup. Kalau ada sudah berapa umurnya, hehee... sudah tua bangat kali yaa..


Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, "jang dinamakan 'Bahasa Indonesia' jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe', akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia;Pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia". atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, "...bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia".

Mari kita lestarikan dan kita gunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.



Read the rest of this entry -»

Kamis, 20 Agustus 2009

7

Silogisme Hipotetis

SILOGISME HIPOTETIS

Silogisme hipotetis adalah silogisme yang memiliki premis mayor berupa proposisi hipotetis (jika), sementara premis minor dan kesimpulannya berupa proposisi kategoris.

1. Silogisme Kondisional

Adalah silogisme yang mempunyai premis mayor berupa proposisi kondisional, sementara premis minor dan kesimpulannya berupa proposisi kategoris. Contoh:

Jika ada hidup, maka ada perjuangan

Hidup ini ada

Jadi, ada perjuangan

Catatan: Pada kalimat “Jika ada hidup, maka ada perjuangan”

Jika ada hidup --> ANTESEDENS

maka ada perjuangan --> KONSEKUENS

1.1 Modus Ponen

Jika antesedens cocok untuk premis minor, maka konsekuensnya harus cocok pula dalam kesimpulannya. Kebenaran yang memengaruhi antesedens memengaruhi kebenaran konsekuensnya.

Contoh 1:

Jika seseorang mengidap kanker, maka ia sakit parah

Budi mengidap kanker

Jadi, Budi sakit parah

Contoh 2:

Jika seseorang mengidap AIDS, maka ia mengidap penyakit yang menyedihkan

Budi tidak mengidap AIDS

Jadi, ia tidak mengidap penyakit yang menyedihkan

1.2 Modul Tollens

Yaitu jika:

1. konsekuens tidak sesuai maka antesedens harus tidak sesuai
2. jika konsekuens benar, maka antesedens dapat benar dan dapat pula salah

Contoh 1:

Jika seseorang mengidap kanker tulang, ia dapat dinyatakan sakit keras

Maria tidak sakit keras

Jadi, Maria tidak mengidap sakit kanker tulang

Contoh 2:

Jika seseorang menderita rabun jauh, maka ia memerlukan kacamata

Juan memerlukan kacamata

Jadi, ia menderita rabun jauh

2. Silogisme Disjungtif

Adalah silogisme yang memiliki premis mayor berupa proposisi disjungtif (atau), sedangkan premis minor dan kesempulannya berupa proposisi kategoris.

Contoh 1:

Munir akan pergi kuliah atau nonton film

Ia ternyata pergi kuliah

Jadi, ia tidak pergi nonton film.

Contoh 2:

Semua napi bersifat manusiawi atau kejam

Napi Budi itu kejam

jadi, ia itu tidak manusiawi



Read the rest of this entry -»
0

Silogisme Hipotesis dan Bentuk Penyimpulan Lain

SILOGISME HIPOTETIS DAN BENTUK PENYIMPULAN LAIN

Pedebatan adu argumentasi yang terjadi antara Socrates dan Plato dengan kaum Sofis (kelompok guru profesional di masyarakat Yunani abad ke-6 SM) menjadi kajian yang sangat menarik bagi Aristoteles untuk menganalisis penggunaan bahasa dan bentuk-bentuk pemikiran. Ditemukan oleh Aristoteles bahwa bahasa sangat terkait dengan penalaran manusia; bahwa bahasa adalah lambang pemikiran; bahwa terdapat kaidah-kaidah berpikir yang universal dan dapat menguji kesahihan bentuk-bentuk penalaran.

Mengenai bentuk penalaran, Aristoteles juga menemukan dua (2) alur atau cara berpikir, yaitu analitika dan dialektika. Analitika merupakan cara berpikir yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar lalu membuat kesimpulan. Dialektika merupakan cara berpikir yang bertitik tolak dari hipotesa menuju penyimpulan yang bersifat mungkin. Dua istilah ini, analitika dan dialektika, kini menjadi bagian dari ilmu yang sekarang disebut logika. Oleh karena itu, Aristoteles boleh dipandang sebagai penemu logika yang memainkan peranan penting dalam sejarah intelektual umat manusia. Aristoteles sendiri tidak menyebutnya dengan logika melainkan analitika. Hal ini menunjukkan kecendrungan cara berpikir Aristoteles yang analitik yang dicirikan dengan keketatan dan jelasnya penggunaan term-term.

Menurut McKeon dalam Introduction to Aristotle (The Modern Library, New York, 1947), tulisan-tulisan logika Aristoteles terdapat pada enam buku yang kemudian secara tradisi dikelompokkan menjadi sebuah nama, Organon. Keenam buku asli Aristoteles yang membahas logika itu adalah Categories, On Interpretation, Prior Analytics, Posterior Analytics, Topics, dan On Sophistical Refutations. Buku yang disebut terakhir inilah, On Sophistical Refutations, membeberkan kesalahan-kesalahan penalaran (fallacious argument) yang dilakukan oleh kaum Sofisme. Dalam buku itu, Aristoteles tidak luput pula menyerang kaun Sofis dengan menyebutkan 13 tipe kesesatan dengan perincian: enam (6) kesesatan karena bahasa dan tujuh (7) kesesatan relevansi mengenai materi penalaran.

Sebelum Aristoteles, Socrates dan Plato telah menggunakan prinsip-prinsip logika dalama rgumen-argumen mereka, bahkan, termasuk kaum Sofis, meski yang terakhir ini memakainya secara keliru untuk menyesatkan penalaran. Seperti yang telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya, pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan Socrates telah mengandung unsur-unsur logika. Misalnya, pernyataan Socrates: "Setiap kebajikan adalah kesalehan, tapi tidak setiap kesalehan adalah kebajikan", telah mempekenalkan pengertian genus (kesalehan) dan spesies (kebajikan), dua konsep/pengertian yang kerap dipakai dalam logika Aristoteles. Kalimat Socrates itu identik dengan pernyataan logika: "Setiap anjing adalah binatang, tapi tidak setiap binatang adalah anjing. Karena, binatang adalah genus, sedangkan anjing adalah spesies atau anggota dari genus binatang.

Upaya pencarian definisi umum pengertian-pengertian etis Socrates juga telah mengandung makna identitas dari masing-masing pengertian etis tersebut. Lalu, oleh Aristoteles pengertian-pengertian ini diperluas mencakup entitas-entitas lain, tidak terbatas pada etika. Dengan menganalisis definisi, spesies, genus, muncullah istilah kategori yang didefinisikan sebagai 'ultimate concept', yaitu pengertian yang sifatnya paling umum sehingga tidak bisa diturunkan dari pengertian lain. Ada sepuluh (10) kategori menurut Aristoteles, yaitu substansi (contoh: manusia), kuantitas (contoh: dua), kualitas (bagus), relasi (separuh), tempat (di toko), waktu (sekarang), keadaan (berdiri), posesi (bersepatu), aksi (membakar), dan pasivitas (terbakar).

Pengaruh ajaran Plato juga nampak dalam buku Aristoteles, Prior Analytics. Dalam buku itu termuat bahwa Aristoteles menemukan bentuka penalaran yang bergerak dari universal ke partikular yang disebut dengan silogisme (syllogismos=syllogismos). Silogisme adalah pola berpikir deduktif yang memiliki kebenaran pasti dan niscaya; berangkat dari hal-hal umum menuju hal-hal khusus. Kesahihan deduksi tidak tergantung kepada pengalaman inderawi, tapi semata-mata kepada konsistensi rasio.

Dengan demikian, silogisme Aristoteles boleh dipandang sebagai perkembangan dari "silogisme lemah" Plato, dengan pengertian bahwa prinsip silogisme Aristoteles telah digunakan secara umum dan sistematis. Berikut disajikan perbandingan keduanya :

Silogisme lemah Plato:

Dunia Idea-Idea adalah universal
Keadilan mengandung Idea

Jadi, keadilan mengandung (nilai) universal

Silogisme umum Aristoteles:

Semua manusia akan mati (Premis mayor)
Socrates adalah manusia (Premis minor)
Jadi, Socrates akan mati (Konklusi)

Read the rest of this entry -»